arekMEMO.Com – Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maestro seni lukis Indonesia, Nasirun, meninggal dunia di Yogyakarta pada Sabtu 1 Agustus 2026.
Kepergiannya mengejutkan banyak kalangan karena sehari sebelumnya pelukis asal Cilacap itu masih beraktivitas dan bercengkerama dengan sahabat-sahabatnya. Kabar wafatnya Nasirun pertama kali beredar pada Sabtu pagi dan segera menyelimuti dunia seni dengan duka mendalam.
Kolektor seni rupa Oei Hong Djien mengabarkan kepergian seniman yang selama lebih dari tiga dekade menjadi salah satu ikon seni rupa Indonesia itu. Informasi tersebut kemudian dibenarkan Bimo Aditya, tetangga sekaligus sahabat Nasirun di Perum Bayeman Permai, Onggobayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.
Menurut Bimo, tidak ada tanda-tanda serius yang mengarah pada kondisi kesehatan Nasirun. Bahkan, Jumat sore mereka masih sempat berbincang.
“Tidak punya riwayat penyakit. Belakangan hanya sempat mengeluh dada terasa sakit dan asam lambung. Kami semua benar-benar kaget,” katanya.
Rencananya, jenazah dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.
Kepergian Nasirun bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan para sahabatnya, melainkan juga bagi perjalanan seni rupa Indonesia.
Dia adalah seniman yang berhasil membawa roh kebudayaan Jawa melintasi batas negara melalui ribuan karya yang sarat simbol, humor, kritik sosial, dan spiritualitas.
Lahir di Karangwangkah, Cilacap, pada 1 Oktober 1965, Nasirun memulai hidup dari keluarga sederhana. Nama kecilnya Masyhuri. Setelah sang ayah meninggal ketika ia masih belia dan tubuhnya sering jatuh sakit, namanya diganti menjadi Nasirun yang berarti “tertolong”, sebuah doa yang kemudian seolah menjadi takdir hidupnya.
Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Demi tidak membebani ibunya, ia sering mengaku sudah makan meski sebenarnya menahan lapar.
Ketika diterima kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, ia bahkan tidak memberi tahu ibunya bahwa dirinya menjadi mahasiswa. Kepada sang ibu, ia berpamitan untuk bekerja.
Enam bulan pertama di Yogyakarta dijalani sebagai buruh tani. Ia mencangkul sawah dan menanam terong untuk memperoleh uang makan. Setelah itu ia belajar membatik, melukis kain, hingga menjadi pelukis reklame bioskop.
Pengalaman sebagai pembatik membentuk kepekaan visual yang kemudian menjadi ciri khas seluruh karya-karyanya.
Perjalanan panjang itu membawanya lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1994.
Sejak pameran tunggal pertamanya pada 1993, nama Nasirun terus menanjak. Ia memperoleh berbagai penghargaan bergengsi dan karya-karyanya dipamerkan di Indonesia, Singapura, Belanda, hingga Amerika Serikat.
Namun keberhasilan tidak pernah mengubah cara hidupnya. Di saat banyak orang mengenalnya sebagai pelukis dengan karya bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah, Nasirun tetap memilih mengendarai motor bebek tua yang dibelinya pada akhir 1990-an.
Kesederhanaan baginya bukan pencitraan, melainkan prinsip hidup. Prinsip itu terlihat dari caranya memperlakukan siapa pun.
Suatu ketika, seorang pemuda datang dengan motor tua untuk melihatnya melukis. Nasirun menyambut tamu itu dengan penuh hormat, mempersilakan duduk di kursi terbaik dan menyuguhkan minuman.
Pemuda tersebut ternyata membeli lukisan yang sedang ia kerjakan seharga Rp175 juta. Belakangan diketahui, tamu berpenampilan sederhana itu merupakan putra seorang pengusaha nasional.
Pengalaman lain tak kalah membekas ketika ia datang ke sebuah dealer mobil dengan pakaian sederhana. Tak satu pun tenaga penjual melayaninya. Baru setelah istrinya datang membawa uang tunai Rp 400 juta, para pegawai berebut memberikan pelayanan.
Nasirun hanya tersenyum.
“Rasa tehnya sudah berbeda. Karena diberikan bukan dari hati yang tulus,” begitu kisah yang kerap ia ceritakan.
Kalimat sederhana itu menggambarkan falsafah hidupnya: menghormati manusia tanpa melihat pakaian, jabatan, ataupun isi dompetnya.
Dalam dunia seni, Nasirun dikenal sebagai pelukis yang berhasil mempertemukan tradisi dengan modernitas. Tokoh-tokoh wayang, kaligrafi, ornamen batik, hingga simbol-simbol Jawa hadir dalam komposisi yang ekspresif, penuh imajinasi, sekaligus menyimpan kritik terhadap kehidupan sosial dan politik.
Ia percaya bahwa seni bukan sekadar keindahan visual, melainkan cara menyampaikan nurani.
Kini sang maestro telah berpulang. Namun jejaknya tidak akan hilang bersama kepergiannya. Ia telah meninggalkan ribuan karya, melahirkan inspirasi bagi banyak seniman muda, dan membuktikan bahwa anak desa yang pernah mencangkul sawah demi bertahan hidup mampu berdiri sejajar dengan para perupa dunia.
Nasirun telah menyelesaikan kanvas terakhirnya. Tetapi warna-warna yang ia goreskan akan terus hidup, mengajarkan bahwa karya terbesar seorang seniman bukan hanya lukisan yang tergantung di dinding galeri, melainkan keteladanan hidup yang tetap dikenang jauh setelah ia tiada.
Penulis: Rokimdakas
