Ini Satir, Bukan Sekadar Sindiran

Dr.dr. Hisnindarsyah
banner 468x60

arekMEMO.Com – Tanpa kita sadari, struktur sosial kita nampaknya lebih memuliakan ‘jabatan dan harta’ daripada ‘akhlak’.

Di tengah masyarakat, ukuran sukses begitu kasat mata: mobil, rumah, gelar, bahkan _followers_ (jumlah pengikut).

Sedangkan ukuran ‘baik’ sering kali dianggap abstrak. Oleh sebab itu, tidak ada piala untuk “manusia paling jujur” atau “paling dermawan”.

Akibatnya, orang berbondong-bondong mengejar jabatan, popularitas, dan kekayaan. Dari sanalah lahir gaya hidup baru: hedon. Sebab jalurnya jelas.
Sedangkan menjadi ‘orang baik’? Jalannya sepi. Tak ada tepuk tangan. Bahkan kerap dicurangi.

Contoh sederhana: Koruptor sering dipuja karena “dermawan”. Sementara orang jujur yang menolak suap justru dicibir sok suci.

Hal-hal semacam ini menyelinap ke alam bawah sadar kita. Ia bersembunyi di dasar pikiran, tanpa kita sadari.
Dan itu mengingatkan saya tulisan di beranda Facebook akun Hisnindarsyah Dokter pada 7 Desember 2025:
“Semua orang bisa mudah jadi apa saja di negeri ini, kecuali jadi orang baik.”

Sindiran? Bisa jadi.
Bagaimana jika pernyataan ini kita telaah dalam dari beberapa aspek?

1. Aspek Politik: Sistem yang Memberi Insentif Keliru

Untuk menjadi anggota dewan yang wakil rakyat, kepala daerah, bahkan mungkin menteri — jalurnya jelas: partai, uang, popularitas, lobi. Semua itu ‘mudah’ bila punya modal.
Tetapi untuk menjadi politikus yang baik? Diperlukan integritas, keberanian menolak tekanan, dan kesediaan untuk rugi. Itu berat, dan rawan tersingkir oleh sistem.

Dan ini paradoksnya. Sistem acapkali tidak menghukum yang jahat, sekaligus tidak melindungi yang baik.
Yang vokal membela rakyat kecil dicap : oposisi. Yang _manut_ dan membagi-bagi proyek justru “aman”.

2. Aspek Psikologis: Menjadi Baik Itu Melelahkan

Secara psikologi ini disebut _cognitive dissonance_ dan _moral fatigue_.
Menjadi jahat itu mudah: ikut arus, berbohong sedikit, sikut sana-sikut sini. Dan sedikit beban berpikir.
Menjadi baik? Itu melelahkan. Harus menahan ego, harus jujur walau merugi, harus berempati walau lelah. Otak pun terus bertarung “mau aman” versus “mau benar”.

Karena itu banyak orang memilih jalan pintas. Bukan karena tidak tahu mana baik dan buruk, melainkan karena ‘baik’ menuntut energi ekstra. Dan itu melelahkan.

3. Aspek Filsafat: Menyangkut Nilai dan Keadilan

Plato berkata: _“Orang baik –di dunia yang rusak– akan menderita.”_
Versi modernnya mungkin begini: Negara macam apa yang memudahkan orang meraih kuasa dan kekayaan, tetapi mempersulit orang untuk berbuat baik?

Pertanyaan ini agaknya masuk ke wilayah _etika_. Jika sistem tidak memberi ruang dan penghargaan pada kebaikan, lama-lama kebaikan akan dianggap bodoh. Lantas punah.

Pernyataan dr. Hisnin ini jika disandingkan dengan Plato, muaranya bukan pesimisme. Ini kritik.
Masalahnya bukan pada manusianya, melainkan pada sistem yang membuat orang sulit menjadi baik. Cekas aos, menjadi baik itu pilihan paling sulit.

Mengapa ini satir, bukan sekadar sindiran?

Sindiran dan satir memang serupa, tetapi tidak sama.

Kalimat dokter yang doktor ilmu manajemen ini bisa digolongkan satir, karena:

Ada Ironi

Yang “seharusnya mudah” — untuk menjadi baik, justru dibuat paling sulit. Kebalik.

Sasarannya Sistem

Beliau tidak menyindir satu orang, tetapi menyindir atmosfer “negeri ini”: sistem, budaya, dan politiknya.

Tujuannya Perbaikan

Kalimat dr. Hisnin tersebut mau tidak mau membuat kita terdiam, berpikir, lalu malu pada diri sendiri. Itulah efek satir.

Jika hanya sindiran biasa, bunyinya mungkin: “Wah, sekarang susah ya jadi orang baik.” Itu teguran umum.

Tetapi kalimat dokter ini naik satu level, dengan memakai kontras tajam: _“mudah jadi apa saja”_ berbanding terbalik dengan _“susah jadi baik”_. Di situlah letak satirnya. Dan di sini perbaikan melalui kritik bernuansa satir mesti dilakukan.

Sederhananya,
Sindiran: “Wah curang banget, nih.”

Satir: Seperti kalimat Hisnindarsyah Dokter itulah.(AM).

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60